Pada Tanggal 8 November 2008, salah satu teman baik saya punya kegiatan yang luar biasa. Hari itu, teman saya dan keluarganya menjadi panitia untuk sebuah acara sosialisasi organisasi sosial dengan nama “Masyarakat Skoliosis Indonesia “. Acara nya sendiri dilangsungkan pada pagi hari disekitar senayan.
Sehubungan dengan beberapa hal, saya tidak dapat mengikuti acara tersebut, Sebagai bagian dari keikutsertaan saya menyebarluaskan informasi tentang skoliosis ini, izinkan saya mengutip satu tulisan tentang apa itu skoliosis dan bagaimana kita mewaspadainya.
Jika ada yang membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan mampir ke www.msindonesia.org
Waspadai Scoliosis
Tonjolan di punggung, disertai sering sakit kepala, kram, kesemutan dan gejala lainnya, merupakan tanda-tanda scoliosis yang sering tidak terdeteksi pada masa kanak-kanak. Padahal setelah remaja, scoliosis bisa menyebabkan tekanan jiwa pada penderitanya.
“Saya terdeteksi menderita scoliosis tahun 1994 ketika duduk di bangku kelas 1 SMP," demikian tutur Prita (25 tahun). Tidak ada gejala khusus yang membuatnya curiga, kecuali sering sesak napas dan kesulitan ketika harus menjalani beberapa gerakan pada saat olahraga (sit-up dan roll-over). "Jika dipaksakan, punggung sava terasa sakit," ujarnya. Prita pun memeriksakan diri ke dokter. "Saya diminta dokter membungkuk sambil menahan napas. Ketika itulah baru diketahui bahwa sava menderita scoliosis, tulang punggung saya bengkok ke kanan," katanya. Memang tampak punggung Prita bagian kanan sedikit lebih menonjol dibanding yang kiri.
Prita masih dianggap beruntung karena kelengkungan scoliosis yang dideritanya sekitar 30 derajat, masih termasuk ringan. Namun dengan berjalannya waktu, penderitaan Prita pun bertambah. "Nyeri punggung merupakan siksaan yang sudah terbiasa saya tanggung, terutama di malam hari atau seusai melakukan kegiatan fisik yang berat," tuturnya. Dan kini seharian di kantor dan duduk berlama-lama di depan komputer, penderitaan Prita pun bertambah dengan sakit kepala dan leher yang menjalar hingga punggung dan pinggul.
Scoliosis bisa muncul dengan gejala lain. Mungkin Anda pernah melihat seseorang yang pundaknya miring, yang kiri lebih rendah dari yang kanan (atau sebaliknya). Atau Anda pernah melihat seseorang yang sikap berjalannya miring disebabkan pinggulnya tinggi sebelah. Bisa jadi mereka adalah penderita scoliosis yang gejalanya tidak terdeteksi ketika masih kecil.
Scoliosis perlu ditangani dengan baik, karena seiring dengan pertumbuhan badan si anak, scoliosis bisa mengganggu postur tubuh sehingga membuat penderitanya menjadi minder Tidak hanya itu, penderita scoliosis pun akan `diteror' oleh rasa sakit dan sesak napas yang berkepanjangan, karena ketidakwajaran bentuk tulang belakang dapat mengganggu fungsi organ tubuh.
Deteksi gejala scoliosis sangat diperlukan, agar Anda bisa mengetahui secara dini apakah seseorang cenderung menderita scoliosis. Apa saja yang harus diwaspadai, dan apa yang harus dilakukan jika seseorang terdeteksi scoliosis?
Kelainan Bentuk Tulang Belakang
Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping (lateral curvature of the spine). Kata scoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Kelainan tulang punggung ini tampak jika dilihat dari belakang.
Jika dilihat dari samping tulang belakang yang normal berbentuk huruf S yang memanjang (elongated S). Bagian depan atas sedikit melengkung ke arah luar dan bagian belakang bawah sedikit melengkung ke arah dalam. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita scoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.
Seorang anak didiagnosa scoliosis jika ditemukan dua macam kelainan pada tulang belakangnya, yaitu:
• Lateral curvature: terjadi jika tulang belakang bengkok. Ini bisa dilihat dari belakang ketika penderita pada posisi berdiri dengan tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. Jika tulang tampak seperti huruf S, bentuknya menyimpang, punggung tidak sama tinggi atau ada tonjolan, berarti scoliosis.
• Rotation: terjadi jika ada sendi tulang belakang yang terputar. Kadarnya hanya sedikit, namun selalu ada pada setiap gejala scoliosis. Aspek ini menyebabkan tulang belakang berbentuk berliku. Penyimpangan kurang dari 10 derajat dianggap masih normal.
Penyebab Scoliosis
Dokter Michael Cornish, chiropractor lulusan RMIT, Melbourne, Australia, yang berpraktik di klinik Chiropractic di Indonesia, mengatakan. "Secara keilmuan, penyebab scoliosis tidak diketahui. Namun, secara spekulatif, saya menduga salah satu penyebabnva adalah pola makan yang salah dan postur tubuh yag kurang baik." Senada dengan pernyataan tersebut Dr Tinah Tan, Chiropractor dari Citylife Chiropractic, mengatakan bahwa kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko sambungan spina tulang belakang pada bayi yang dikandung menjadi tidak sempurna (cacat spina bifida). Keadaan ini dapat memicu scoliosis.
Sedangkan menurut Dr Luthfi Gatam, SpOT, spesialis ortopedi & traumatologi dari RS Fatmawati, bahwa 80% scoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut idiopathic scoliosis. Kata idiopathic menunjukkan bahwa penyebabnya tidak diketahui. Usia penderita bisa di bawah 3 tahun sampai di atas 19 tahun.
Ada juga scoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan. Ini disebabkan oleh perkembangan tulang belakang yang tumbuh abnormal. Termasuk kelompok ini adalah sindrom kerdil (osteochondrodystrophy). Contoh-contoh tersebut termasuk kategori scoliosis struktural.
Ada pula scoliosis non-struktural yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang, sehingga terjadi lengkungan abnormal pada tulang belakang. Kejang otot dan radang otot juga bisa menimbulkan kelainan tulang belakang. Jika penyebab scoliosis didiagnosa non-struktural, penanganannya bukan reposisi tulang belakang melainkan reposisi bagian tubuh yang menyebabkan scoliosis tersebut.
Dari Rasa Sakit sampai Sesak Napas
Kasus scoliosis memerlukan pemeriksaan atau check-up pada waktu-waktu tertentu secara reguler. Dari 1000 penderita anak, 3-5 anak penyakitnya berkembang menjadi lebih parah. Keadaan ini memerlukan penanganan khusus seperti penggunaan brace, terapi kbusus bahkan banyak yang menjalani operasi. Pada orang dewasa scoliosis yang diderita biasanya merupakan kelanjutan kelainan dari masa kanak-kanak yang tidak ditangani dengan baik. Bisa juga akibat proses degeneratif yang terjadi pada sendi-sendi tulang belakang.
Menurut Dr Tinah Tan, seorang chiropractor, kondisi tulang belakang yang tidak sempurna akan menyebabkan fungsi organ yang ada di dalam tubuh menjadi terganggu. Contohnya, scoliosis bisa menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru (pulmonary hipertention) sehingga penderita sering sulit bernapas (sesak papas). Inilah yang dialami Prita.
Penderita scoliosis juga lebih mudah terkena osteoartritis akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu sisi. Selain itu, scoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau pegal punggung. Sedangkan penderita lain, Ade Rose (31 tahun) mengalami gejala kesemutan dan kejang kaki ketika hamil. Tingkat keparahan Ade 36 derajat. Setelah melahirkan gejala semakin parah ditambah badan pegal dan kaki kanan ngilu. Menurut Dr Tinah Tan, scoliosis yang parah bisa menyulitkan proses persalinan. Sedangkan Astrid Triandini, penderita scoliosis Yang berusia 21 tahnn, merasakan sakit tulang, pusing kepala, dan ada tonjolan di punggungnya. Tingkat keparahan Astrid 40 derajat.
Scoliosis bisa diderita setiap orang, namun lebih banyak diderita wanita. "Di klinik saya perbandingannva 10:1," ujar Dr Michael Cornish. Sedangkan di RS Fatmawati rasionya 9:1. "Sampai sekarang masih merupakan misteri, kenapa wanita lebih banyak menderita scoliosis dibanding pria,” kata Dr Luthfi Gatam, SpOT.
Gejala scoliosis biasanya tampak jelas pada usia 9-13 tahun. Ade baru mengetahui dirinya mengalami scoliosis ketika berusia 27 tahun, sedangkan Prita pada usia 11 tahun. Penderita lain, Astrid Triandini (21 tahun) meuyadari ada kelainan tulang belakang ketika duduk di kelas 1 SMU.
Sumber. Majalah Nirmala
Senin, 10 November 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

1 komentar:
dear mas ivan,
makasih ya atas dukungannya ke Dinda & MSI,
semoga sukses.
Poskan Komentar